Paham Radikal Merusak Nilai Kebangsaan

Oleh: Dwi Andika

Radikalisme sering dikaitkan dengan tindakan terorisme karena kelompok radikal ini dapat melakukan hal yang mengancam nyawa dengan cara apapun agar keinginannya tercapai, termasuk meneror banyak pihak yang tidak sepaham dengan ajaran mereka. Meski banyak yang mengaitkan radikalisme dengan Agama tertentu, namun pada dasarnya radikalisme merupakan bentuk masalah politik dan bukan dari sebuah ajaran Agama tertentu.

Inti dari tindakan radikalisme yaitu timbulnya sikap dan tindakan seseorang atau kelompok tertentu yang menggunakan cara secara kekerasan dalam mengusung perubahan tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Kelompok radikal umumnya menginginkan perubahan tersebut dalam waktu yang singkat dan secara drastis serta bertentangan dengan sistem sosial yang berlaku.

Dalam sejarah Indonesia sendiri memang selalu ada usaha untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain namun belum pernah separah sekarang ini dimana upaya tersebut berlangsung secara kasat mata. Bersekongkolnya pemodal dengan elit – elit politik yang gamang memperburuk situasi dan juga kondisi saat ini. Sudah jelas dalam konstitusi Pasal 1 Ayat 1 Undang-undang dasar 1945 sangat tegas dinyatakan bahwa Indonesia merupakan negara kesatuan berbentuk republik. Artinya, para pendiri negara dan penyusun konstitusi negara paham betul betapa pentingnya menerapkan prinsip pluralisme dan kemanusiaan secara universal.

 

Sebenarnya timbulnya sebuah gerakan terorisme dan radikalisme merupakan suatu reaksi yang dilakukan karena telah berlakunya kebijakan global Amerika serta negara barat lainnya, khususnya keberadaan negara Yahudi yang bernama Israel. Sebenarnya para kaum dan golongan terorisme ingin menolak adanya hal tersebut dengan maksud untuk berjihad di jalan Allah, namun cara mereka melakukan jihad yang menimbulkan kerugian banyak orang yang bukan merupakan sasaran mereka sehingga hal ini akan sangat merusak berbagai tatanan kehidupan baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, negara dan juga agama. Berikut ini beberapa bentuk dampak negatif dari radikalisme yang terjadi:

 

  1. Menghancurkan Nasionalisme Bangsa

 

Timbulnya gerakan radikal sudah tentu akan menghancurkan rasa nasionalisme bangsa. Mereka melakukan penyerangan pada masyarakat yang memang merupakan saudara sedarah tanah air. Hal ini jelas dapat menimbulkan perpecahan yang akan semakin menghancurkan nasionalisme bangsa. Para pemuda seharusnya diajarkan untuk saling menghormati, menerima perbedaan serta saling menyayangi agar jiwa nasionalisme semakin tinggi, bukan untuk diajarkan pada peperangan pada bangsa sendiri. Jika alasan karena berjihad, seharusnya berjihad dengan jalan lain yang bisa dilakukan selain dengan penyerangan yang merugikan orang lain. Inilah yang disalah artikan banyak kaum teroris mengenai jihad.

  1. Meracuni Pikiran Generasi Bangsa

 

Adanya gerakan terorisme dan radikalisme tentu akan menjadi racun bagi pikiran generasi bangsa. Mereka adalah generasi penerus yang sebaiknya diberikan contoh yang baik dan bukan malah melakukan penyerangan. Yang dilakukan oleh para teroris justru akan menyebabkan anak bangsa dengan tidak langsung berpikir keras. Anak muda tentu pemikirannya masih susah terkendali sehingga mudah sekali terprovokasi untuk melakukan penyerangan dan mereka terpancing secara emosi untuk melakukan penyerangan kembali secara brutal. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran terhadap para generasi penerus di masa mendatang apabila paham ini tidak ditangkal.

 

  1. Menimbulkan Banyak Kerusakan

 

Saat terjadi penyerangan oleh terorisme dan radikalisme kepada sasaran yang mereka anggap sebagai musuh, maka tentu akan menimbulkan banyak kerusakan di bumi. Kerusakan tidak hanya terjadi pada fisik seperti gedung atau bangunan namun juga kerusakan moral, selain itu juga nyawa orang yang tidak bersalah. Kerusakan fisik seperti bangunan sering sekali terjadi karena mereka sering melakukan penyerangan dengan alat yang berfungsi untuk menghancurkan seperti bom.

 

  1. Meresahkan Banyak Umat Agama

 

Gerakan terorisme dan radikalisme juga menimbulkan keresahan banyak orang karena mereka melakukan penyerangan dengan tiba-tiba dan pada titik pusat tertentu, seperti pusat keramaian, kantor polisi, gereja, dan sebagainya. Masyarakat yang tidak tahu tentang hal ini akan merasa resah dan merasa tidak tenang karena keamanan mereka terancam. Padahal membuat resah dan ketidaknyamanan banyak orang merupakan kegiatan mengganggu tatanan hidup orang banyak. Hal ini menurut hukum negara tidak benar dan menurut hukum agama Islam hal tersebut juga tidak benar.

  1. Mencoreng Nama Baik Islam

 

Terorisme dan radikalisme yang melakukan jihad dengan kekerasan tentu akan mencoreng nama Islam. Islam yang sebenarnya merupakan agama yang penuh kasih sayang, tidak kaku serta peduli terhadap sesama, bukan seperti paham terorisme yang tidak mau menerima perbedaan. Terorisme memang banyak timbul dan lahir dari Islam, namun disini perlu digaris bawahi bahwa Islam yang mereka anut merupakan Islam yang tidak benar paham dan alirannya. Mereka melakukan jihad dengan menghalalkan segala cara, sedangkan Islam yang benar yaitu melakukan jihad dengan baik yaitu tidak memusnahkan budaya atau horistik masyarakat. Karena agama Islam yang hakiki adalah agama yang membawa kepada kebaikan, tanpa menggunakan kekerasan juga membuka perbedaan sebagai kehidupan yang universal dan rukun.

 

Kebanyakan para teroris menggunakan pola ideologis yang pemahaman terhadap Islam secara praktis tanpa adanya pemahaman Islam dengan epistemologi yang memadai. Para kaum terorisme menggunakan pemahaman absolutisme dalam Islam sehingga mereka dalam bertindak tanpa memikirkan hal lain yang sebenarnya juga penting dan mempunyai pengaruh yang kuat dalam Islam seperti pertimbangan budaya dan nilai historistik dalam masyarakat. Selama budaya dalam masyarakat bisa berjalan beriringan dengan agama Islam serta tidak mengandung kemusyrikan sebenarnya hal tersebut bukan menjadi satu masalah.

 

Berbeda paham dan ajaran, bagi para pengikut teroris umumnya mereka akan melakukan proses cuci otak dimana hal ini sebenarnya bertujuan agar mereka tidak lagi mengenal adanya budaya, perbedaan serta toleransi. Para teroris kebanyakan merupakan orang yang kering akan kearifan dari pengalaman keagamaan, budaya, nilai historistik serta perkembangan ilmu Islam yang universal. Dimana para teroris yang memaksakan bahwa doktrin mereka harus diterapkan dalam tengah – tengah masyarakat tanpa mempertimbangkan adanya faktor lain seperti budaya dan kehidupan masyarakat.

 

Contoh doktrin yang sering digaungkan oleh kaum Radikal:

 

  1. Takfir adalah menganggap golongan lain dalam Islam yang berlawanan haluan sebagai orang yang kafir atau istilahnya pengkafiran dengan seenaknya.
  2. Jihad yang dimaksud oleh pemahaman kaum teroris dan radikalisme yaitu jihad yang melakukan perlawanan terhadap semua lawan mereka dengan berbagai cara, meskipun harus menumpahkan darah banyak korban yang termasuk kedalam orang Islam, hal ini tidak menjadi masalah karena dianggap sebagai resiko dari adanya jihad.
  3. Doktrin bom bunuh diri ini merupakan yang paling berbahaya di dalam faham teroris dan radikalis. Bom bunuh diri ini dianggap sebagai operasi mati syahid, di mana orang yang melakukannya akan mati syahid dan langsung masuk syurga dengan dipeluk oleh para bidadari syurga.
  4. Eksklusif dalam hal ini berarti tertutup. Jadi para kaum teroris dan radikalisme bersifat tertutup dengan semua pihak lain yang tidak sesuai dengan paham yang mereka anut. Mereka tidak akan mau diajak berdiskusi secara terbuka dengan pihak lain kecuali pihak internal dalam golongannya.

 

Tonggak ideologis akan selalu hidup dan berkembang seiring pasang surut kehidupan dalam sosial,  politik dan ekonomi di masyarakat. Untuk itu pencermatan dan kewaspadaan perlu dijaga dengan terus menerus menjaga kerukunan juga kebersamaan antar warga bangsa. Dan tidak mudah untuk diprovokasi terlebih menerima mentah – mentah setiap informasi yang belum tentu kebenarannya.