Definisi Sufi Secara Umum & Etimologi

Oleh: Dwi Andika

Beribadah kepada Allah wajib hukumnya bagi setiap muslim. Sang Pencipta menganjurkan kepada umat Baginda Nabi Muhammad untuk senantiasa bertasbih, menjalankan perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Hal tersebut bertujuan agar mereka selamat di dunia maupun di akhirat.

Usai peninggalan Rasulullah, kehidupan politik dan moral umatnya mulai tercerai berai. Mereka seolah sudah lupa dengan ajaran Nabi dan lebih memilih berfoya-foya dengan duniawi. Namun di saat inilah, muncul kalangan Sufi yang mencetuskan sikap Tasawuf dengan tujuan agar lebih dekat dengan Allah.

Lalu siapa sebenarnya Sufi tersebut? Bagaimana mereka menyebarkan ajaran agama Tauhid berlandaskan ajaran Rasulullah hingga ke seluruh pelosok negeri?

A.      Pengertian secara umum

Sufi merupakan orang yang memutuskan untuk mendalami ilmu Tasawuf. Dalam keseharaiannya, seorang sufi lebih memilih untuk menjauh dari hiruk pikuk dunia, dan menenggelamkan diri untuk beribadah setiap saat kepada Allah SWT.

Untuk memenuhi kebutuhan jiwanya, para sufi menghabiskan waktu luang untuk berdzikir dan wirid. Mereka menjadikan ibadah sebagai cara untuk lebih dekat dekat dengan Tuhan, serta mendamaikan ruh serta pikiran dari dunia yang penuh sesak.

1.       Adakah Sufi di zaman Nabi Muhammad?

Tasawuf sendiri mulai dikenal usai sepeninggalan Nabi, tepatnya saat pemerintahan Utsman. Maka istilah Sufi sebetulnya belum dikenal di era Rasulullah. Bahkan sebutan itu tidak tertera

dalam al-Qur’an maupun hadis dan tidak memiliki akar dalam Bahasa Arab, sehingga ahli berpendapat bila kata itu merupakan sebuah gelar.

1.       Diduga dari Bahasa Yunani

Meski tidak memiliki induk atau akar bahasa, namun para ahli mencoba menghubungkan dengan kata dari Bahasa lain, salah satunya dari Yunani. Sufi diduga berasal dari kata Shopia yang berarti kebijaksanaan.

Dalam kehidupan sehari-harinya, Sufi dikenal sebagai orang yang rajin beribadah. Mereka tidak ingin mencampurkan urusan dunia dengan akhirat. Pemikiran-pemikiran merka dikenal filosofis dan abstrak. Maka dari sanalah kemudian penggabungan Shopia dan Filsuf menjadi Sufi.

Namun rupanya pendapat tersebut dipecahkan oleh Thaha A. Ia berpendapat bila menghubungkan istilah Sufi dan masyarakat Yahudi tidaklah bisa diterima. Sebab praktik Tasawuf murni berasal dari Islam dan tidak ada hubungannya dengan tradisi kaum lainnya.

A.      Pengertian secara etimologi

Meskipun Sufi diduga tidak memiliki akar kata, namun para ahli mencoba untuk menghubungkan dengan induk kata dalam Bahasa Arab. Sehingga secara etimologi istilah tersebut berasal dari kata berikut ini,

  1. Shaff artinya barisan. Para Sufi selalu berada di barisan paling depan untuk membela Islam dan Rasulnya. Ketinggian iman dan takwa membuat mereka ingin selalu berada di sisi Allah dan memperjuangkan agamanya.

 

Sufah dikenal sejak zaman Jahiliyah. Istilah ini digunakan untuk mengacu pada laki-laki yang menghabiskan waktunya untuk

  1. berkeliling Ka’bah. Orang tersebut bernama Gofur bin Mur yang mengisi harinya dengan beribadah.

 

Bahkan Ibnu Jauzi pernah mengatakan bila Muhammad bin Nashir menceritakan kepadanya dari Ibrahim Abi Ishaq. “Abu Muhammad Abdul Ghani, aku bertanya kepada Walid bin Qasim, dari mana sebutan Sufi bersandar?” Dia menjawab, “Pada zaman Jahilyah ada suatu kaum bernama Sufah, mereka selalu beribadah menyembah di sekeliling Ka’bah. Maka barang siapa yang menyerupai mereka, dia adalah Sufah.”

 

  1. Shuffah yang kemudian dinisbatkan menjadi Ahlus Shuffah. Istilah tersebut disematkan pada kaum Anshar dan Muhajirin miskin yang tinggal di sisi Masjid di Madinah. Kendati hidup mereka diliputi dengan kemiskinan, namun mereka terkenal taat beribadah.

 

Para ahli juga berpendapat bila As Shuffah memiliki arti bantalan empuk untuk dudukan kuda. Dalam kesehariannya, Ahlus Shuffah tidak memiliki rumah. Rasulullah menyediakan tempak duduk di Masjid Madina sebagai tempat istirahatnya. Di sanalah kemudian mereka tidur dengan beralaskan pelana.

 

  1. Shuf yang berarti bulu domba. Mereka yang tekun beribadah dan menjauhkan dari kehidupan duniawi, kerap menggunakan pakaian berbahan bulu domba. Hal tersebut merupakan simbol kerendahan hati.

Kini istilah Sufi dikenal sebagai orang yang menekuni ilmu Tasawuf dan senantiasa mengamalkan ajaran Rasulullah. Dalam perkembangannya, Sufi melahirkan aliran-aliran serta pemikira-pemikiran baru di dunia filosofi Islam.