Allah SWT merupakan sebaik-baiknya Pencipta. Dia yang menciptakan alam beserta isinya, mengatur satu per satu pergerakan yang ada di dalamnya. Menjadikan bumi sebagai tempat paling aman untuk dihuni oleh makhluknya, kemudian menjadikan semuanya saling bersinergi dan berjalan seimbang. Rasanya tidak ada hal yang kurang atau timpang. Lantas tidakkah kita sebagai makhluk kecil tidak bersyukur akan semua yang telah diberikan oleh-Nya?

Dengan semua nikmat yang telah Dia berikan, manusia masih menjadi makhluk yang tidak bisa sempurna. Mereka masih cenderung melalaikan apa yang diperintahkan, melakukan apa yang justru dilarang dan semua hal yang membawa pada kemudharatan. Begitulah Allah menguji ciptaan-Nya dengan nikmat dunia yang melenakan. Kendati demikian Sang Penguasa Alam adalah Maha Pemaaf. Sekalipun manusia berbuat dosa besar, namun Dia masih menyayangi dan senantiasa memberikan tempat terbaik.

Suatu kisah di zaman Nabi Isa AS. Kala itu pemerintahan dikuasi oleh Kekaisaran Romawi. Rakyat begitu menderita, tidak ada kemakmuran, situasi jauh dari kedamaian. Seluruh sumber daya alam hingga hasil kerja keras masyarakat dirampas. Maka akibatnya mereka hidup dalam kemelaratan.  Pemerintahan yang sewenang-wenang itu juga berpengaruh pada kondisi ekonomi.

Di saat situasi serba sulit, tinggal seorang wanita sendirian tanpa sanak saudara. Di tengah kerasnya kondisi ekonomi dan semua serba menderita, ia harus rela menjajakan dirinya. Meskipun tahu bahwa pekerjaan itu sungguhlah hina hingga mendapatkan cercaan serta hinaan, namun ia tetap tidak bisa melakukan apa pun selain menjual diri.

Pada suatu hari sang wanita seperti biasa, memulai hari dengan menjajakan diri. Namun hari itu berbeda, dari pagi hingga malam tidak seorang pun yang menghampiri dirinya. Kondisi yang begitu memprihatinkan membuat ia sama sekali tidak memiliki sepeser uang pun sembari berharap seseorang datang menggunakan jasanya. Walaupun sudah berkeliling kota, tapi tetap saja rezeki tidak datang. Padahal ia sama sekali merasa lelah, haus dan lapar.

Tidak putus asa, maka dia pun berjalan terus walau kakinya sudah terasa mati dan keringat mengucur di seluruh wajah serta badan. Belum lagi rasa dahaga yang begitu sangat. Setelah berjalan jauh dan sampai di pinggi kota, dia menemukan sungai. Namun sepertinya sungai itu pun hanya menyisahkan sedikit air.

Untuk mengobati rasa dahaga, ia mengikatkan sepatu dengan kerudungngnya dan mengambil air sungai yang tersisa sedikit. Di saat hendak meneguk, si wanita melihat anjing kurus yang juga merasa haus seperti dirinya. Ia sempat dilema, apakah meminum air ini atau memberinya kepada si anjing malang itu. Dipilihlah mengikuti kata hatinya untuk memberikan air tersebut. Tidak tahan dengan rasa lapar dan haus, akhirnya dia meninggal dunia.

Kemuliaan hati wanita tersebut justru menjadi perdebatan di antara Malaikat Malik penjaga pintu neraka dan Ridwa penjaga pintu surga. Mereka saling berebut, wanita itu telah menjual dirinya dan berbuat maksiat maka sudah seharusnya masuk neraka. Namun hatinya yang mulia karena memberikan anjing kurus itu air maka dia layak masuk surga. Akan tetapi, tidak ada yang seadil Allah SWT, sang pencipta alam. Dia mengatakan,

Hambaku itu telah menebus dosa-dosanya dengan mengorbankan dirinya dan menyelematkan nyawa makhluk-Ku, aku meridhoinya masuk surga.” Akhirnya wanita itu dimasukkan ke dalam surganya Allah diringi dengan takbir para malaikat.

Dari kisah tersebut, kita bisa mengambil hikmah bahwa segala sesuatu yang menurut orang buruk dapat ditebus dengan sikap belas asih dan penuh rasa cinta terhadap sesama. Pada dasarnya kedudukan manusia di muka bumi ini sama, pun dengan hewan dan tumbuhan. Maka, sebagai manusia tidak sepatutnya menyombongkan diri. Jika seorang yang telah menjajakan dirinya mampu berbuat baik terhadap ciptaan Tuhan lainnya, mengapa kamu tidak?

Sementara itu, orang yang terlihat menjijikkan di dunia belum tentu hidupnya juga akan sengsara di akhirat. Sebab semua itu ditentukan oleh kemuliaan hati, iman serta takwa yang dimiliki. Sedangkan Allah SWT adalah Sang Maha Pebngampun, sebesar apapun kesalahan hambanya akan Dia maafkan. Maha Besar Allah Dengan Segala Nikmatnya.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *